RSS

Sayap Cinta

Aku mematung di riuh rendahnya kehidupan. Memotret kisi-kisi lakon yang berbeda. Ada kehidupan yang menjulang menantang langit; sebagian yang lain luruh seperti rumah kardus. Ada tuan nyonya berkerudung kemewahan, didandani menor dengan gincu kekayaan, lengkap dengan simbol penahbis orang gedongan; dengan satu jentikan, para dayang berprosesi membawa sesaji. Di adegan yang lain, barisan kehidupan bawah, kulit legam di cat panasnya matahari, dicabik oleh taring kemiskinan; mereka menyabung hidup dengan kerasnya keadaan. Dibanting tetapi tetap bangkit. Demi pemikiran sederhana, “Asal bisa makan”. Meski yang disebut makan, tidak layak disebut makan. Lebih tepatnya, “Asal ada yang ditelan”.

Selalu ada dalam realita, berjajar bangunan istana dan kandang. Istana yang mewah dan kandang yang tidak lumrah. Temboknya berdekatan. Tetapi tidak terseberangi. Di tembok angker itu terpaku papan berukir tulisan “Orang kere dilarang masuk”, “Orang kaya memalingkan muka”. Itu seperti bangunan Bait Allah Yahudi dengan bangunan Romawi. Temboknya berdekatan tetapi penghuninya berjauhan. “Awas, anjing dilarang masuk”. Mantera ini sudah cukup untuk memarang hubungan di antara mereka.

Petang ketika gelap menggelar selimutnya, istana megah itu bermurah membuka gapura. Aku mengamat-amati dengan tatapan mengintip. Seorang laki-laki, lebih tua dari usianya, berkosmetik borok, melewati pintu berjeruji besi. Semburat tanya melingkar-lingkar dalam benak. “Puji Gusti! Istana berangkulan mesra dengan kandang”. Pemandangan yang tidak boleh dilewatkan untuk diabadikan. Mataku melompat-lompat hendak melumat kelanjutan kisahnya. La dalah! Laki-laki itu duduk seperti anjing menjulur, menantikan remah-remah yang dijatuhkan dari meja tuannya. “Duh Gusti! Dimanakah kudapatkan istana yang mau memeluk kandang?” “Terlalu kuatkah lem yang menempel di pantat mereka, sehingga untuk duduk sejajar, mereka tidak bisa?” “Mengapa hidup dibuatkan kasta-kasta berdasarkan kepemilikan? Orang berpunya layak dihormati, sedangkan kaum kandang layak direndahkan”. Mataku sudah tidak mampu memandang. Terhalang tembok penghalang derajat.

Aku masih mematung. Bingung. Memikirkan yang tidak bisa aku pecahkan. Tentang obat, mantera, ajimat atau apalah yang bisa menerbangkan manusia melampaui tinggi tembok; yang menukik di hamparan lumpur kenistaan. Aku pernah mendengar sepenggal kisah. Kucari pemiliknya. Kuamati lakunya. Dia sedang merangkul orang kusta. Mengobati lukanya. Tanpa jijik. Tanpa risih. Dari banyak orang saya tahu dia orang sebrang. Kecil perawakannya. Tetapi tangannya cukup panjang untuk merangkul orang-orang kusta di kota itu. Itu belum ditambah dengan ribuan anak yatim piatu yang berteduh dalam dekapannya. “Bunda, apakah aku tidak sedang bermimpi?” “Maksudmu?” tanyanya keheranan. “Tentang kehidupan ajaib yang aku saksikan!” Wanita itu tersenyum. Sangat manis. Ia tahu apa yang aku maksud. Dia mengulurkan buku. “Bacalah! Aku belajar dari Dia!”

Kulahap habis. Aku mendapat pencerahan! Tentang realitas cinta. Yang memberikan sayap. Membuat tubuh dan jiwa terbang dengan ringan, siap membawa kemanapun pergi. Sang Cinta meninggalkan gemerlap singgasana sorga. Memindahkan tahta-Nya di sumpeknya kandang. Menceburkan diri dalam kenistaan, agar bisa bercengkrama dengan para gembala. Orang pinggiran, Samin dan terbelakang. Hari itu cinta mengangkat derajat mereka. Memanusiakan dan memuliakan mereka. Sama seperti ketika ia menyambut kaum yang diledek oleh bangsa jumawa sebagi kafir. Manusia bukan hanya dipilah berdasarkan status sosial, pendidikan, ekonominya; bahkan di ruang sakralpun label kafir, anjing, orang tidak beragama dan sesat ditempelkan. Ada kelas orang yang dekat dengan Tuhan, di ujung lain ada kelas kerak neraka.

Hari itu Sang Cinta menyapa. Ia berkenan, mau mendekat dan bersahabat dengan mereka. Mensorgakan mereka. Cinta dengan sayapnya terbang di landasan gender. Di barisan silsilah. Nampak lima nama wanita diukirkan di deretan nenek moyang Sang Cinta. Wow! Wanita dimuliakan. Diskriminasi gender dipatahkan. Wanita dikembalikan kesederajatannya dengan pria sebagai gambar dan rupa Allah.

Karena Sang Cinta, istilah serem yang membaju dalam kedirian wanita seperti ‘kanca wingking’ ‘empunya tuan’ sudah menjadi penghuni tong sampah. Menariknya, empat dari lima wanita yang disebut, memiliki reputasi buruk. Hidupnya dibalut dengan pengalaman traumatik, profesi kotor, bangsa kafir dan pezinah. Cinta itu menyembuhkan luka masa lalu. Sedalam apapun bekas goresannya, dipulihkan oleh bilur cinta-Nya. Cinta itu mengangkat manusia dari ‘kubangan babi’, membersihkan dan menjubahinya dengan pakaian kebesaran. Diiring rebana kemenangan. Cinta itu membawa yang jauh menjadi dekat; memasukkan dalam keluarga. Menjadi kakak adik rohani yang saling mengasihi. Cinta itu menghidangkan roti. Bagi mayoritas, perzinahan dan dosa layak untuk dilempari batu. Bagi Sang Cinta lain. Setiap bidang lemah, salah, kalah harus diampuni, dipulihkan dan diberdayakan. Di peristiwa kedatangan Sang Cinta, sorga dan kandang berpelukan mesra. Bukan karena kegenitan kandang yang menggetarkan sukma sorga. Jauh dari itu. Pesing, kotor dan tidak layak. Cintalah yang membuat hidup penuh dengan rahmat, kasih karunia dan belas kasihan. Sehingga yang tidak layak dilayakkan. Yang tidak memenuhi kualifikasi diseleksi. Yang terbuang dipunguti. Di kandang itu terjadi gawe besar. Dirias menjadi istana sorga. Bukan dengan material dan fisikal. Tetapi dengan kekayaan sorgawi. Supaya setiap orang yang datang kepada Sang Cinta; mereka pulang membawa bekal kedigdayaan hidup. Untuk menjadi bapa bagi orang miskin. Rumah bagi pencari perteduhan. Mata bagi yang buta. Ibu bagi jiwa yang kering. Kaki bagi yang lumpuh. Oh cinta! Kesaktianmu nyata. Setiap sentuhanmu mengandung energi yang luar biasa. Terimakasih Cinta. Bangsri, 13 Desember 2010 Pdt. Yohanes Prapto Basuki, M.A.

 
1 Comment

Posted by pada 14 Desember 2010 in Artikel

 

Kaitkata: , , , , ,

Sekolah Sebagai Mesin Pencipta Kasta

Beberapa wanita berkumpul. Bau nafasnya beradu menyebar, memasuki kolong ruang. Lidahnya berjaipong menggonggong. Memuntahkan satu tong kata sombong. Meliuk-liuk dalam tabuhan. Semakin liar memanterakan kebanggaan. “Anakku itu ranking satu paralel di SMA Anu lho jeng?” bibirnya berbelak belok. “Sama mbak, anakku itu jagoan matematika! Berkali-kali dia memenangi kejuaraan olimpiade matematika!”

Serunya pertemuan itu melebihi pertandingan liga sepak bola. Satu dengan yang lain hendak merebut tempat unggul. Dari anak, suami, orangtua sampai ke anjing kucing mereka.

Di sudut ruang, bersama bisunya burung hantu, seorang ibu bermain-main dengan jarinya. Tawa cekikikan para ibu “unggul” semakin menghujam batinnya. Lembar hasil studi anak yang dibagikan sekolah menempatkan anaknya di urutan paling belakang. Entah sudah berapa keranjang ejekan ditumpahkan ke muka anak dan orangtua. Cap-cap distempelkan oleh teman-teman kelas dan orangtua mereka. Bodoh. Dungu. Jagad ini seolah hanya dihuni oleh mereka yang ranking, cerdas, berprestasi, dan memiliki rapor bagus. Yang lain selayaknya dibuang, atau sedikit bermurah hati ditaruh di pinggiran saja.

Mengapa sekolah menjadi mesin pencetak kelas? Seolah yang ranking satu layak menempati kasta Brahma. Sepuluh besar sebagai kesatria. Yang ranking bawah sebagai kaum sudra yang patut dibelaskasihani. Mengapa pendidikan begitu bergairah dengan pencapaian angka? Sementara nilai hidup dianaktirikan? Mengapa sekolah menciptakan persaingan? Mengapa anak diracuni pemikiran bodoh ini. Bahwa untuk mencapai nomor satu saya harus menyingkirkan yang lain. Pantesan orang sulit hidup berdampingan, wong sejak kecil dilatih untuk berkompetisi, bersaing dan saling mengalahkan.

Angka oh angka. Demi engkau kejujuran dilacurkan. Kalau menjiplak memungkinkan, mengapa tidak? Jadi mengapa korupsi di negeri ini merajalela? Karena diternakkan di sekolah.

Yang lain rela menumbalkan masa kanak dan remajanya. Les ini les itu. Pokoknya angka angka dan angka. Mereka lupa bahwa hidup mesti perlu keseimbangan. Kehilangan keseimbangan berarti sakit. Jadi kalau banyak kehidupan menjadi sakit, siapa yang membuat?

Kasihan ibu yang kesepian dalam keramaian itu. Pedang yang diproduksi sekolah itu memarang wajah dan hatinya. Malu. Sakit. Hanya lantaran angka.

Padahal anak yang disebut bodoh oleh guru dan teman-teman sekolah itu memiliki nilai hidup melampaui teman-temannya. Ia tidak memiliki handphone. Sepeda motor apalagi. Pulang sekolah ia melakukan ritual wajib. Membantu orangtua di ladang. Senyumnya tidak pernah dirampas oleh kesulitan hidup. Baginya, suasana bahagia di keluarganya melampaui apapun.

Sementara di mulut-mulut ceriwis yang membanggakan ‘kedigdayaan’ anak-anaknya; ya Tuhan! Betapa miskin, bodoh dan cengengnya hidup mereka. Hanya lantaran hape ketinggalan jaman dibanding milik teman, mereka sudah merengek-rengek. Lauk tidak enak berteriak. Pulang seperti tuan dan sang putri. Tangan halus karena tidak pernah menjamah kerasnya kehidupan. Inikah yang disebut anak cerdas? Inikah yang disebut anak berkualitas? Ranking teratas? Maaf! Mereka kaya tetapi miskin. Pandai tetapi bodoh. Tahu tetapi tidak mengerti.

Hai ibu-ibu, hai bapak-bapak, masukkanlah anak-anakmu di sekolah kehidupan yang luas ini. Agar mereka mengerti tujuan belajar: to learn, to be dan to live together. Belajar, menjadi dan hidup bersama.

Jepara, 2 Desember 2010

Yohanes Prapto Basuki

 
2 Comments

Posted by pada 2 Desember 2010 in Artikel

 

Kaitkata: , , , ,

Surat Untuk Sahabat

Sobat, akhir-akhir ini aku melihat ada yang tidak beres dengan penglihatanmu. Menurutku aneh. Terhadap kebaikan dan kelebihan orang lain, penglihatanmu kabur; tetapi untuk kelemahan dan keburukan mereka, penglihatanmu tajam. Sobat, kemungkinan matamu kotor atau penglihatanmu terhalang oleh kaca yang kotor. Bersihkanlah dirimu dan cara pandangmu, supaya sobat bisa melihat segala sesuatu dengan bening.

Sobat, kelihatannya engkau terkena rabun dekat. Kuman di seberang lautan kelihatan, tetapi gajah di pelupuk matamu tidak kelihatan. Engkau merasa orang lain banyak melakukan kesalahan. Kau julurkan telunjukmu ke arah mereka. Menyumpah serapah, menghakimi dan memberondongkan kata hujat. O sobat, tarik kembali jari itu sebelum membujur kaku. Sementara engkau pamer telunjukmu yang pendek gemuk itu, ada banyak telunjuk yang tertuju pada dirimu. Mengapa engkau tidak mengenakan kacamata plus, yang menolongmu melihat apa yang baik, benar, kudus, dan mulia.

Sobat, terus terang aku heran. Engkau memang terkena rabun dekat; tetapi koq ya terkomplikasi dengan penyakit rabun jauh. Beberapa kali aku bergaul denganmu, aku berani menyimpulkan demikian. Kamu ingat tidak, engkau hanya melihat dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu; sementara orang lain yang menggelepar, lapar, sekarat dan dekat dengan liang liat sama sekali tidak engkau lihat. Atau barangkali engkau yang disindir oleh suara di padang gurun itu. Engkau bukan budheg (tuli) tetapi mbudheg (menulikan diri); engkau tidak picak (buta) tetapi micak (membutakan diri); engkau bukan bisu tetapi mbisu (membisukan diri). Sobat, aku pesan serius! Nanti di hari ketika semua lutut bersembah di pengadilan-Nya, engkau akan ditanya, “Dimanakah engkau ketika Aku lapar, kedinginan, telanjang, dan kehausan?” Jawaban apa yang akan engkau berikan?” Ketahuilah sobat, apapun yang kita lakukan untuk orang terbuang, orang pinggiran, orang hina dan terkapar, kita sudah menyambut Juruselamat, Junjungan kita.

Surat ini aku tulis karena aku mengasihimu. Dengarkan hatiku, sesungguhnya kalau hati kita dibanjiri oleh kasih, kesalahan yang menggunung tidak akan terlihat lagi. Ditenggelamkan oleh kasih dan pengampunan. Dalam kasih-Nya, Yohanes Prapto Basuki

Jepara, 27 November 2010

Yohanes Prapto Basuki

 
Leave a comment

Posted by pada 27 November 2010 in Artikel

 

Kaitkata: , , , , ,

Bila Orang Kecil Marah, Orang Besar Gemetar

Mereka yang lemah janganlah dilemahkan. Alirankanlah separoh energimu, supaya mereka tangguh meninju getirnya hidup.

Mereka yang bodoh jangan dibodohi. Berdayakanlah mereka. Agar ‘bener’ dan ‘pener’ yang dimiliki disempurnakan oleh pinter yang kau beri. Agar jagad belajar dan menimba kecerdasan hidup yang membual dari sumber batinnya.

Sesungguhnya tidak ada orang yang bodoh. Mereka belum ditemukan, diasah dan mendapat kesempatan. Potensi besarnya terbungkus ketidakberdayaan, karena kesempatan untuk mendapatkan dirampas oleh setan berkerah. Andai mereka dipungut dan diasah, mereka memiliki ketajaman untuk memarang ketidakadilan.

Mereka yang miskin janganlah dimanfaatkan. Jangan sodori permen pahit bersalut coklat manis sekedar mendukung tukang obral bedebah. Lihatlah matanya yang menjorok yang ditikam oleh silih bergantinya penguasa yang tidak mampu berereksi memenuhi janji. Berikanlah kail berikut umpan. Tambahkan ketrampilan. Jangan lupa. Kembalikan empang yang dirampas gundul pacul berdasi.

Mereka yang kecil jangan diinjak. Di dalam diri mereka terdapat kebesaran jiwa yang tidak dimiliki pembesar kerdil. Mereka tahu apa artinya saling membesarkan di antara mereka. Sementara para penggede bisanya hanya menginjak orang kecil. Mereka tidak tahu kalau orang kecil marah bisa menggetarkan seluruh istana.

Orang yang rendah jangan direndahkan. Mereka adalah kaum beruntung. Mereka tidak takut untuk jatuh. Tetapi lihatlah mereka yang berada dalam ketinggian. Untuk sementara mereka berdendang erotik. Namun sesungguhnya mereka ditempatkan di bidang licin. Bila jatuh, hancur berkeping-keping. Yang berada di ketinggian merendahlah agar yang di bawah tidak capek memandang rupamu. Betapa bermartabatnya engkau bila mau berjuang mengangkat harkat dan martabat mereka.

Jepara, 25 November 2010

Yohanes Prapto Basuki

 
Leave a comment

Posted by pada 25 November 2010 in Life Wisdom

 

Kaitkata: , , , ,

Tertawa Bersama Tuhan

Doa adalah perjumpaan dua pribadi yang saling mengasihi. Seperti orangtua dengan anak atau suami dengan istri. Menyatu. Aku di dalam kamu, kamu di dalam Aku. Aku milikmu, engkau milik-Ku. Aku mencintaimu, engkau mencintai-Mu. Doa itu bersatunya dua hati.

Karenanya doa bila tidak keluar dari hati itu bukan doa. Doa berubah bentuk menjadi nama yang menyeramkan. Perkosaan, perampokan, pengemis, penodongan, mantera, dan formula ajaib. Dia kelihatan lebih santun karena disalut dengan bahasa agama dan seperangkat gerak hormat.

Sebagai ungkapan kasih, doa mengandung keakraban. Kita menikmati canda cerita dengan Tuhan. Dalam kemesraan. Dalam kehangatan. Tidak ada satupun yang tersembunyi. Dari urusan dapur sampai pupur, sumur sampai kasur; bahkan dari riangnya hati sampai kecewa yang menggumpal; semuanya disampaikan secara terbuka, tanpa takut, penuh kepercayaan, karena Tuhan menikmati seluruh keberadaan kita.

Hal yang tidak menyenangkan Tuhan adalah bila Ia diturunkan derajat-Nya menjadi bukan Tuhan. Itulah pemistikan Tuhan. Tuhan dijadikan seperti lampu wasiat. Disimpan bila tidak diperlukan. Diberi hormat bila dibutuhkan. Lalu mantera-mantera keluar dari mulut ceriwis. Adakadabra. Bermuncullanlah semua keinginan pemuja. Jelas Tuhan jijik dengan model keberagamaan seperti ini.

Kita menyembah Allah karena memang Dia Allah. Titik. Tidak ada embel-embel. Tidak ada motif tersembunyi. Tidak ada pamrih. Doa adalah ungkapan sembah bakti kepada pribadi yang mengasihi kita. Tidak lain tidak bukan.

Jepara, 24 November 2010

Yohanes Prapto Basuki

Quote of the Day:
I do not agree with a word that you say, but I will defend to the death your right to say it.
–Voltaire

 
Leave a comment

Posted by pada 24 November 2010 in Artikel

 

Kaitkata: , , , , ,

Dalam Dekapan Matahari Dan Rembulan

Orangtua adalah payung, melaluinya anak-anak mendapatkan keteduhan dan perlindungan dari sengat panas surya dan basah air hujan. Anak-anak berpegang gagang, melenggang mengejek basah tanah. Dalam dekap kasih orangtua, anak meringkuk pulas. Mengacuhkan geram halilintar. Anak-anak tidak perlu mencari ketenangan di tempat lain, karena kekuatan dan kelembutan orangtua cukup hangat untuk mendekap mereka.

Orangtua itu matahari dalam ketegasannya dan rembulan dalam kelembutannya. Kerudung gelap gemetar oleh sinarnya. Setiap ruang benderang oleh kehadirannya. Tidak ada yang ditutupi. Semua helai hidup dibiarkan tersingkap. Namun ia juga rembulan yang memendarkan kelembutan. Anak-anak melesatkan kaki dalam dendang dolanan. Bersama dengan irama cahayanya yang menggoda. Bersahabat.

Orangtua adalah pujangga, merias kata dengan imaginasi, meliak liuk membentuk gambaran diri. Dihembuskan dalam lempeng hati. Lahirlah para mardi (baca: anak) yang berbudi. Setiap gerak anak, setiap sembur tuturnya, terlihat asap-asap yang dahulu keluar dari tungku bapa ibunya. Sungguh, anak adalah buku sastra karya orangtua.

Orangtua adalah petani kehidupan. Mereka menaburkan benih Illahi dalam diri keturunannya. Dicarinya sepetak tanah. Gembur. Subur. Dicangkul, dipupuk, disiangi dengan keringat kesabaran. Benih ditaburkan. Aha! Benih itu tumbuh di sepinya malam. Esok bersolek mekar, rimbun menyumbangkan manis dan aroma.

Orangtua adalah malaikat yang merelakan sayapnya patah. Ditempelkan di bahu anak-anak, agar mereka terbang melampaui tinggi yang pernah dijangkaunya.

Ayah, ibu, sepatutnya kamipun memberi engkau tawa melalui hidup yang engkau tanamkan. Terimakasih ayah. Terimakasih ibu. Kubawakan sekarung hormat dan doaku padamu. Inilah hidupku yang telah engkau dandani.

Jepara, 23 November 2010

Yohanes Prapto Basuki

Quote of the Day:
When something can be read without effort, great effort has gone into its writing.
–Enrique Jardiel Poncela

 
Leave a comment

Posted by pada 23 November 2010 in Artikel

 

Kaitkata: , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.