Sobat, kelihatannya engkau terkena rabun dekat. Kuman di seberang lautan kelihatan, tetapi gajah di pelupuk matamu tidak kelihatan. Engkau merasa orang lain banyak melakukan kesalahan. Kau julurkan telunjukmu ke arah mereka. Menyumpah serapah, menghakimi dan memberondongkan kata hujat. O sobat, tarik kembali jari itu sebelum membujur kaku. Sementara engkau pamer telunjukmu yang pendek gemuk itu, ada banyak telunjuk yang tertuju pada dirimu. Mengapa engkau tidak mengenakan kacamata plus, yang menolongmu melihat apa yang baik, benar, kudus, dan mulia.
Sobat, terus terang aku heran. Engkau memang terkena rabun dekat; tetapi koq ya terkomplikasi dengan penyakit rabun jauh. Beberapa kali aku bergaul denganmu, aku berani menyimpulkan demikian. Kamu ingat tidak, engkau hanya melihat dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu; sementara orang lain yang menggelepar, lapar, sekarat dan dekat dengan liang liat sama sekali tidak engkau lihat. Atau barangkali engkau yang disindir oleh suara di padang gurun itu. Engkau bukan budheg (tuli) tetapi mbudheg (menulikan diri); engkau tidak picak (buta) tetapi micak (membutakan diri); engkau bukan bisu tetapi mbisu (membisukan diri). Sobat, aku pesan serius! Nanti di hari ketika semua lutut bersembah di pengadilan-Nya, engkau akan ditanya, “Dimanakah engkau ketika Aku lapar, kedinginan, telanjang, dan kehausan?” Jawaban apa yang akan engkau berikan?” Ketahuilah sobat, apapun yang kita lakukan untuk orang terbuang, orang pinggiran, orang hina dan terkapar, kita sudah menyambut Juruselamat, Junjungan kita.
Surat ini aku tulis karena aku mengasihimu. Dengarkan hatiku, sesungguhnya kalau hati kita dibanjiri oleh kasih, kesalahan yang menggunung tidak akan terlihat lagi. Ditenggelamkan oleh kasih dan pengampunan. Dalam kasih-Nya, Yohanes Prapto Basuki
Jepara, 27 November 2010
Yohanes Prapto Basuki