Beberapa wanita berkumpul. Bau nafasnya beradu menyebar, memasuki kolong ruang. Lidahnya berjaipong menggonggong. Memuntahkan satu tong kata sombong. Meliuk-liuk dalam tabuhan. Semakin liar memanterakan kebanggaan. “Anakku itu ranking satu paralel di SMA Anu lho jeng?” bibirnya berbelak belok. “Sama mbak, anakku itu jagoan matematika! Berkali-kali dia memenangi kejuaraan olimpiade matematika!”
Serunya pertemuan itu melebihi pertandingan liga sepak bola. Satu dengan yang lain hendak merebut tempat unggul. Dari anak, suami, orangtua sampai ke anjing kucing mereka.
Di sudut ruang, bersama bisunya burung hantu, seorang ibu bermain-main dengan jarinya. Tawa cekikikan para ibu “unggul” semakin menghujam batinnya. Lembar hasil studi anak yang dibagikan sekolah menempatkan anaknya di urutan paling belakang. Entah sudah berapa keranjang ejekan ditumpahkan ke muka anak dan orangtua. Cap-cap distempelkan oleh teman-teman kelas dan orangtua mereka. Bodoh. Dungu. Jagad ini seolah hanya dihuni oleh mereka yang ranking, cerdas, berprestasi, dan memiliki rapor bagus. Yang lain selayaknya dibuang, atau sedikit bermurah hati ditaruh di pinggiran saja.
Mengapa sekolah menjadi mesin pencetak kelas? Seolah yang ranking satu layak menempati kasta Brahma. Sepuluh besar sebagai kesatria. Yang ranking bawah sebagai kaum sudra yang patut dibelaskasihani. Mengapa pendidikan begitu bergairah dengan pencapaian angka? Sementara nilai hidup dianaktirikan? Mengapa sekolah menciptakan persaingan? Mengapa anak diracuni pemikiran bodoh ini. Bahwa untuk mencapai nomor satu saya harus menyingkirkan yang lain. Pantesan orang sulit hidup berdampingan, wong sejak kecil dilatih untuk berkompetisi, bersaing dan saling mengalahkan.
Angka oh angka. Demi engkau kejujuran dilacurkan. Kalau menjiplak memungkinkan, mengapa tidak? Jadi mengapa korupsi di negeri ini merajalela? Karena diternakkan di sekolah.
Yang lain rela menumbalkan masa kanak dan remajanya. Les ini les itu. Pokoknya angka angka dan angka. Mereka lupa bahwa hidup mesti perlu keseimbangan. Kehilangan keseimbangan berarti sakit. Jadi kalau banyak kehidupan menjadi sakit, siapa yang membuat?
Kasihan ibu yang kesepian dalam keramaian itu. Pedang yang diproduksi sekolah itu memarang wajah dan hatinya. Malu. Sakit. Hanya lantaran angka.
Padahal anak yang disebut bodoh oleh guru dan teman-teman sekolah itu memiliki nilai hidup melampaui teman-temannya. Ia tidak memiliki handphone. Sepeda motor apalagi. Pulang sekolah ia melakukan ritual wajib. Membantu orangtua di ladang. Senyumnya tidak pernah dirampas oleh kesulitan hidup. Baginya, suasana bahagia di keluarganya melampaui apapun.
Sementara di mulut-mulut ceriwis yang membanggakan ‘kedigdayaan’ anak-anaknya; ya Tuhan! Betapa miskin, bodoh dan cengengnya hidup mereka. Hanya lantaran hape ketinggalan jaman dibanding milik teman, mereka sudah merengek-rengek. Lauk tidak enak berteriak. Pulang seperti tuan dan sang putri. Tangan halus karena tidak pernah menjamah kerasnya kehidupan. Inikah yang disebut anak cerdas? Inikah yang disebut anak berkualitas? Ranking teratas? Maaf! Mereka kaya tetapi miskin. Pandai tetapi bodoh. Tahu tetapi tidak mengerti.
Hai ibu-ibu, hai bapak-bapak, masukkanlah anak-anakmu di sekolah kehidupan yang luas ini. Agar mereka mengerti tujuan belajar: to learn, to be dan to live together. Belajar, menjadi dan hidup bersama.
Jepara, 2 Desember 2010
Yohanes Prapto Basuki
Ronny
9 Desember 2010 at 07:45
Saya punya pandangan yang sedikit berbeda, seharusnya sekolah mengajarkan yang namanya ‘perbedaan’, saya bayangkan sekolah tanpa penyeragaman yang berkedok disiplin, semua itu adalah suatu upaya untuk menutupi masalah yang sebenarnya nyata dalam hidup. Kita semua dilahirkan berbeda, secara fisik, latar belakang, semuanya berbeda, di sekolah pun memang ada perbedaan, itu hal yang wajar. Saya pikir semua masalah ini seharusnya diatasi dengan mengajarkan arti dari perbedaan itu, bukan dengan menyeragamkan. Pintar bodoh kaya miskin cakep jelek tinggi pendek itu kenyataan, masalahnya bagaimana cara menyikapi semua itu, yang superior menghargai yang inferior dan sebaliknya.
ypb9967
9 Desember 2010 at 09:41
Setuju banget Mas Rony. Sekolahlah merupakan tempat strategis mendidik anak tentang kekayaan perbedaan. Bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Terimakasih sudah singgah di blog saya.